Saturday, 24 August 2013

Burung hantu atau helang??


Siang itu, Sang Kiai menjadi imam solat zohor bagi para santrinya. Usai solat, seperti biasa, Pak Kiai langsung pulang ke rumahnya yang terletak di lingkungan pesantren. Demikian juga para santrinya yang lain, mereka melanjutkan aktiviti duniawi masing-masing. Ada yang ke kebun, ke sawah, ke laut, dan sebagainya.


Meski demikian, di dalam masjid masih tampak seorang santri, pemuda yang asyik larut dalam lautan zikir. Ketika Sang Kiai datang ke masjid untuk solat Asar, santri itu belum juga beranjak dari tempatnya. Dia seperti begitu menikmati zikirnya. 


"Nak, mengapa Engkau tidak keluar mencari rezeki seperti teman-temanmu yang lain itu?" tanya Pak Kiai.

Sang Santri menjawab,"Apakah Pak Kiai tidak melihat burung hantu itu, ia tidak ke mana-mana tetapi setiap hari pasti ada seekor burung helang datang membawakan makanan untuknya. Ia sahaja seekor binatang, Allah menjamin rezekinya. Bagaimana dengan saya yang rajin berzikir, tentu Allah lebih menjamin rezeki-Nya untukku..Tidak begitu?"

Pak Kiai tersenyum mendengarnya."Benar katamu.Tetapi coba perhatikan dan renungkan kembali baik-baik, manakah yang lebih mulia di antara keduanya, burung hantu atau helang itu?"

Si Santri langsung menjawab,"Waduh Pak Kiai, jelas-jelas si burung helang itu yang lebih mulia. Kerana ia bersungguh-sungguh membawakan makanan buat burung hantu itu, sedangkan si burung hantunya hanya terdiam menunggu juadahnya."

Pak Kiai pun menyambung bicaranya,"Nah, demikianlah juga manusia. Yang berusaha itu jauh lebih mulia daripada yang hanya menunggu pemberian juadah. Bukankah Rasulullah s.a.w sudah bersabda,'Tangan yang di atas itu lebik baik dan mulia daripada tangan yang di bawah.'"

Sang Santri mengangguk-angguk membenarkan kata-kata Pak Kiai sebentar tadi. Dia akhirnya mengerti akan nasihat Pak Kiai. Mulai hari itu, usai menunaikan solat fardhu di masjid, ia langsung menyinsing lengan bajunya untuk menjemput rezeki Allah dengan bekerja. 


"....Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin..." (At-Taubah: 105)





-----------------------------------------------------------------------------------------


Para Nabi memiliki mata pencariannya yang tersendiri dan mereka makan daripada hasil keringat mereka sendiri. Nabi Zakaria adalah tukang kayu. Nabi Idris adalah seorang tukang jahit. Rasulullah pula merupakan pengembala kambing. 

Para Ulama' juga begitu. Ada yang menjadi tukang besi, ada yang menjadi tukang daging, ada yang menjadi tukang jam, ada yang menjadi tukang tenun. Pekerjaan-pekerjaan yang mungkin menurut kita sudah ketinggalan zaman dan sangat tradisional, tetapi sesungguhnya adalah profession yang penuh barakah, tidak berpotensi untuk dikorupsi, dimanipulasi. Yang  jelas, mereka tidak mahu menggantungkan hidupnya kepada orang lain.




Kita juga seharusnya begitu. Tidak terlalu bergantung dengan orang lain. Jangan jadi seperti si burung hantu itu, pemalas hinggakan terpaksa bergantung kepada burung helang untuk membantunya terus hidup. Sebaliknya jadilah seperti burung helang, contohilah sikap rajinnya. 


Dalam erti kata seorang pelajar, rajin-rajinlah keluar menuntut ilmu kerana ilmu yang diterima itu juga merupakan antara cabang-cabang rezeki yang dikurniakan Allah kepada kita. Seterusnya, manfaatkanlah ilmu itu dengan menyebarkannya dan mengajarkannya kepada orang lain. Semoga ilmu-ilmu yang kita terima ini mendapat barakah dari sisi Allah. Amin.

Wallahu A'lam :)

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget